TOPOYO



tubuhku kian tambun
ekorku canggung sekurus capung
kini bagai ular penuh lengkung
berlibat di hutan meliuk di kampung

matahari bapakku yang tiri
ibuku awan berjuta bunting
menyulur hujan tembuni  
inangku bukit sawit sakit yang bangkit
aku dibuai dalam palung malaria sisa hutan

aku lengkung cemeti berpegas
bertumbuh lekas

aku bermain
aku meliuk
meluka
melaut

PADA SEBUAH PEREKAM
(interpretasi atas videotape-radiohead)

setiba di pintu-pintu berkilau mutiara ini
akan aku dekam ke dalam perekam, ke segala perekam
karena elmaut di belakang sana menguntit
menjulurkan tangan, ingin mencekik

maka datanglah hari yang penuh puisi
yang membungkusku di sini
menjadi merah, biru, hijau
memerah, membiru, menghijau

engkaulah pusat dari segala pengisaranku
di luar dari yang engkau lihat di perekam
dari segala yang berdiam
yang aku peram
dalam perekam

tapi beginilah akhirnya aku harus melambai
karena tak akan mampu aku memandang wajahmu
dan aku bicara padamu sebelum malabala itu tiba
lewat perekam ini

bila pun ada yang terjadi hari ini, tak usah takut
hari ini, aku rasa, hari paling hijau yang pernah tiba di mataku.

[12.2007]

UNTUK SEORANG LELAKI YANG MENGHITAM  
fakhruddin bin muhammad

kesatu: untukku sisa satu, di ginjal yang ganjil

padaku ada tiga batu. bawalah pulang dua.
yang merah memang batu muda.
warnanya pun belum sempurna. masih menyala.
seperti segar darah.

aku temukan di sebatang sungai kurus
kelok kering yang merimbunkan bambu untukku
tempatku mengalirkan peluh
menimbun aduh.

yang hijau nyaris legam. warnanya sudah matang.
aku temukan pada kisar sebuah beranda, tempatku pulang.

gurat seutas yang melintas di punggung batu ini bagai jejak
para pencari. segala garis tipis lain menjadi bekas seacak
tempuhan kaki-kaki gemetar ini menyapu embun, di pundak bebukit
yang lelah aku hitung

padaku ada tiga batu. untukku sisa satu.
sebongkah ujung peluru mengganjal ginjalku
yang ganjil.


kedua: hikayat tubuh yang pernah rubuh
tubuh hitam ini pernah rubuh di sebuah subuh
mereka, para pencari itu, ingin mengutip
sehimpun suara-suara jangkrik dari ngarai-ngarai sempit
juga pekik orang-orang sakit, yang lari dari bukit ke bukit
dari intip ke intip

suara-suara itu kini terkumpul
dalam ginjal yang serupa dua pasang telinga ganjil
saling tangkup lalu menyusup
berdiam di pangkal perutku ia menggigil

2010

DI BAWAH RIMBUN POHON NANGKA

di padang penuh matahari, sepasang bocah berkantong penuh
perahu kertas, berlari ke bawah rimbun pohon nangka,
merangkai mahkota mendung, menunggu hujan.

meniti pematang retak lalu hilang di kelok setapak,
dengan mahkota mendung di kepala, mereka menunggu
hujan di sungai kecil, perahu kertas siap dilabuh.
tapi sungai masih mendaun kuning.

kedua bocah itu lalu tumbuh. geligi tanggal tanda usia makin banal.
dengan mahkota mendung di kepala, mereka menunggu hujan di sungai kecil
mencari panduan ke muara.

rembang lalu rebah di padang. mereka pulang
memintas dan menyibak ilalang. ada kawanan burung
yang terbang sebentar, seperti tersibak sebuah getar.
mungkin juga sebab dada mereka yang gentar.

sebentar lagi, pintu-pintu tertutup bagi kemarau
dan tangan-tangan kecil yang gemetar
karena hujan yang tak terjangkau.

[2005-2007]

SAJAK KEPADA SIAPA

kata-kata berdesakan
seperti penumpang
ingin tiba selamat
di terminal penjemput sajak
begitu tiba, mereka melambai
tapi penjemput saling pandang
kepada siapa lambaian ditujukan? 

[01.2005]


PEREMPUAN DALAM HUJAN
-kepada Aslan Abidin 

pukul delapan pagi yang hujan, dua perempuan
dari sajak-sajakmu cekikikan di bawah payung hitam
terbungkus daster tembus pandang
lalu hilang dalam hujan.
kubayangkan engkau tertawa terbatuk hingga terbungkuk
hilang di balik pintu kamar mandi. onani, barangkali.
tapi tidakkah engkau tahu, onani seperti sajak, tidaklah
menggemukkan?
perempuan dari sajakmu sudah kembali, menenteng
sekantong penganan untuk sarapan. sesampai di kamar
kontrakan, kantong plastik dicampak ke tong buangan.
kita yang dikutuk menjadi kecoak, menghambur saling tindih
demi ampas dan kerat yang kelak dirawat jadi sajak
engkau kecoak nanar yang mabuk sudut-sudut kamarku
sedang aku kecoak yang pening, mabuk apek dan pesing
bandar dan terminalmu
setelah berebut dan saling tindih
aku kembali ke sudut kamarku
engkau ke bandar dan terminalmu
sambil merawat sakit atau memelihara genit
karena hujan segera turun lagi. 

[01.2005]

JEJAK YANG PULANG

Beratus lembar kertas telah kutanggal seperti almanak harian.
Tapi ada saja yang tertinggal. Tak tercatat.
Mungkin sembunyi di sudut benak atau di pojokan
pagar halaman sebuah rumah yang dilantar.

Setiap berkunjung ke sana, aku hanya duduk lemas
di sebuah kursi malas di ujung kanan
beranda yang tak berparas.

Tapi beranda itu, sejatinya, tak pernah sepi.
Ada saja yang berjalan mendekat. Megap-megap
memberi tanggap.
“Engkaukah jejak yang pulang karena tak pernah
tiba di tujuan?” 

Oktober 2004

SAJAK TANGIS BAYI 2

pagi di daun padi
diayun angin
bersama embun yang telungkup rapi

lalu gerimis turun sebentar
seperti membawa kabar
air mencari lubang dan kelokan
memercik ke pematang ingatan

tangismu seperti pagi di daun semanggi
terdengar sampai di sini

[08.2004]

KAMPUNG HALAMAN KELERENG KENANGAN

Aku pulang seperti bocah berkantong penuh
kelereng kemenangan di sebuah petang
membasuh tangan di alir sungai kuning kemilau
langit merah dan ranting menyuluh hijau

tak ada yang beringsut
hanya petani dan uban rambut
daun padi penuh kalut

kemarau menggarap galau
laki-laki pergi merantau
perempuan garami pisau

ada jalan berbatu bercabang arah
bukit kuburan menyimpan istirah
kenangan melompat ke daun ubi rambat
lalu jatuh ke kotoran anjing buruk pantat

kenangan dalam kantong ringsek
terselip dalam lipatan uang kertas lecek
terbang bersama debu di terminal penuh becek
kuraba genangan mencari kelereng kenangan
merah kuning hijau terperangkap dalam bulatan.

[07.2004]

SEBELUM GERIMIS

sebelum gerimis sentuh pundak ingatan
dingin berjongkok di pangkal
tiang lampu
siap membuyar di jalan
menyeka hangat setiap jejak ban

sebelum hujan sentuh pundak ingatan
ada girang kelelawar lepas
di samping lampu lalu lintas
kelebat hendak punguti butir bening
menggelinding

[03.2004]


MAHAKAM

Waktu memicing
bahtera Nuh rampung
sungai-sungai kecil gemetar
menampung diri
sebentar lagi diterbangkan
dicetus ketus
memisah segala senggama daratan

hujan runduk kesima penuh
hutan dan kabut berpeluh

tubuhmu lebam, mahakam
seribu lengang mengepung
ombak mengikis

muara senyap mengapung
waktu merintis

[03.2004]

PANEN SUBUH
- kenangan di Rapak

Ketika bunga jagung baru tumbuh, ia betulkan
semua daun pintu. Rumah kita rumah sederhana,
tapi setiap pintu adalah rahim pengembara.
Biarlah serbuk gerimis dan serpih
bunga menciuminya.

Ia pun terbaring. Wajah-wajah di samping.
Jejari dipaut sebagai tangkal maut. seperti
kolibri yang teliti, ia menyapa wewajah
dengan jari.

Adzan terputus-putus menyiram dari kejauhan.
Tapi baginya seperti serbuk hujan menyambut
sebuah kedatangan. Memang ada mendekat,
tapi hanya kereta baru pulang panen.

Dini hari berkelebat, seekor kolibri melesat dari
sebuah pintu terbuka, terbang menuju kebun
menciumi bunga jagung lalu bertengger di bubung:
subuh mengkal, cahaya tunduk penuh berisi.

[03.2004]

PASANG

kali ini rinduku pasang
purnama terus membelah diri
dalam ombak yang tegaskan wajah angin

mungkin hanya nafas kita yang lepas
kendali malam ini
lainnya, semua tunduk dalam ikat
lamat-lamat ke pantai rahasia
lalu lenyap

siput menciumnya sedap
lekat ke pinggang kapal perahu
dalam leliang kepiting
kesepian akar bakau
[01.2004]

IA BERANGKAT

ia berangkat dari sebuah kota karena ingin merasai
musim hujan menyentuh pundak ingatan, berlekas
dalam keriangan cahaya, tapi gemetar bagai
ujung daun yang kedinginan

dalam perjalanan, katanya,
yang terlewati ada saja tak sempat dinamai
tapi mesti diberi amsal, biar tak menyesal

[11.2003]

LAMPU DI TIKUNGAN DAN DETAK JAM

Lampu di lorong menikung itu menyala
irama detak jantung. baru saja tersenggol
kelelawar terbang tergesa
menguntit seorang pasien melangkah berjinjit
dari kamar belakang sebuah rumah sakit

suara detak jam
diludahi perempuan mual
digigit lelaki merintih

pintu ditutup hati-hati
air diguyur ke jamban
dan suara daun bunga di taman
bergesekan

sesaat suara uapan perawat di meja jaga
menanggalkan ngilu dan ngeri
horden pintu setengah terbuka tersingkap pelan
lalu derit ranjang campur gumam
sesosok bayangan yang sejak tadi rebah
di kolong truk
berkelebat masuk
lalu beringsut bersama sehelai daun di tangan
menghilang di tikungan
lampu menyala irama detak jam
[07/2003]

SELEPAS AZAN SUBUH JUM’AT ITU

Selepas azan jum’at subuh itu, seorang pemuda tanpa wajah
Berdiri dalam bingkai pintu
:aku pesuruh, menunggu tiga puluh hari yang lalu di dahan
randu belakang rumahmu.

Perlahan dari panggung kurus itu tumbuh sepasang sayap biru.
Kata ibu, “Kemarin, menjelang magrib, sekejap ada hinggap di atap
Dan mencengkeram gada-gada rumah.”

Pertandakah itu, ibu?
Aku kira, manusia adalah burung;
Mencari tuhan dengan sayap.

Ketika ayah berangkat bersama sang pemuda,
Aku tinggalkan adik dan ibu dan hidup kuserahkan
pada lampu merah.

Selepas azan subuh jum’at itu,
seorang pemuda desa tak mampu sembunyikan
kecemasan; kecemasan abad gelap bocah
Transylvania melihat kelelawar cakar lorong
gelap—tatkala Ali, teman mengasongnya,
tertangkap petugas.
Ia pun melangkah dan mengumpat:
Aku akan taklukkan setiap riak di laut.
Emper toko dan lampu merah merindukannya.

Usai minum secangkir kopi susu, nelayan tua itu angkat sauh
selepas azan subuh jum’at itu.
Tanpa kecemasan di wajah, berangkat ke
arah matahari, sambil bernyanyi:

Dayung aku dayung
Payung aku tak butuh payung
Jaring aku tebar jaring

Tiba-tiba nyanyiannya terhenti
sebab seekor camar hinggap tegak di puncak tiang layar
sodorkan sepasang sayap
:aku camar pesuruh, menunggu tiga puluh hari yang lalu
di puncak tiang layarmu.

Sejenak riak laut memburai
Gelombang meliuk-liuk dan terurai
Lalu tenang kembali.
[1999]

SAJAK LONCENG
- F

Lonceng mungil tersihir salju
di samping pintu

Lelaki kecil merindu
di samping batu
[2000]

NEGERI BINTANG
- Bunda

Dulu setiap menjelang tidur, sambil memeluk dan mengusap ubun-ubun anaknya,
sang ibu sering mendongeng tentang apa saja. Juga tentang peri-peri yang bermain
kejar-kejaran, menari, dan memetik dan selipkan bunga di telinga;
di taman sebuah negeri yang bernama bintang.

"Peri-peri itu mencintai alam negerinya.
Mencintai dan mendoakan anak yang alim
dan rajin agar cepat dewasa. Dari negeri itu,
mereka selalu tersenyum melihat kita.
Setiap tahun menitipkan hadiah pada sinterklas
untuk dibagi pada anak yang suka
menolong sesama,"? kata sang ibu malam itu.

"Ayah-ibu mereka siapa, Bu?"
"Mereka lahir dari rahim cahaya, anakku?"
Ketika dongeng usai, sang ibu membuka
jendela: ucapkan salam dan lambaikan tangan
pada mereka. Juga berdoalah sebelum tidur!

Berkat doa peri-peri, anak itu tumbuh dewasa
dan tidur tanpa dongeng, dan terkenang pada
negeri cerita ibunya dulu. Namun badannya bergetar
setiap tengadahkan wajah pada malam. Selalu ingin ia
bawa pulang segenggam tanah dari negeri itu untuk ibunya.

Karena rindu dan langit makin terang, ia hanya singgah
di sebuah warung dan berteriak di gerbang pagar rumahnya:
"Dua batang kembang api aku beli untukmu, Ibu!"
[2000]

BARU SAJA,
DI KAMAR DAN DI TERMINAL

baru saja datang
berdiam di sudut-sudut kamar
mungkin unsur cuaca
tapi seperti senyap yang beringsut
dari kolong truk yang basah oleh hujan
atau sepi bahu jalan di sebuah terminal
yang penuh rumput
dan kehilangan gairah

aku tak pernah mau mengusiknya

tapi kenapa setiap pagi
setiap aku bangun
aku ngungun
kadang dia pergi
meninggalkan lumut di tembok kamar
atau bau hangus sesekali membuyar
[06.2003]


SENDAWA DAN MATA MELATA
setelah denting bening gelas beradu
ada sendawa di balik pintu
sebuah jam berdetak oleng aku pangku
aku tinju berluka gincu

matamu sinar mata melata
engkaukah Cleopatra
suaraku gagap meresap
seperti lumat mulut lumut pada tebing lembab

mata kucing memicing mata pancing
aku terkencing-kencing
aku jangan kau jemput
lumat mulut lumut

sebuah jam berdetak oleng aku pangku
berluka gincu.
[2000]


SUDRA KIBRA
Pecut lecut perintah
Kuda sapi dihela
Bajak menggembur tanah
Dataran itu jadi mukim jadi kota jadi gula
Seorang budak pertama—dengan kereta tua—dibawa ke sana

Dari sana ia kirim catatan
Karena terasa angin menghembus celaka
hujan meludah
belulang retak gemilang
meski lembu-lembu bergirang

Karena huruf-huruf telah tanggal beberapa
penuh kerut karena musim yang buruk, Kibra tiba
di gerbang kota. Dua bila rusuk, dari makam buyut,
menjadi sungut. Bulan bersinar surut dan lapar menurut.

Namun pelepah dan Kibra begitu rapuh
Tanpa kuda kaki ditentu tuju
Lembing mengepung dada
Di tanah lapang: umpat begitu riuh.

Hari menghukum
Menegang akar tangan di lubang pasungan
Angin menimpa kemarau
Angin menyapa pisau.
[03.2002]

KUCARI ENGKAU DI ACEH
Sesiapa yang sembunyi dalam batang pohon
lalu terpotong?

Setelah itu, gemuruh harapan menangkup awan
seperti kawanan burung panik
di sebuah delta, di pagi yang penuh pekik

Doa-doa dari segala sembunyi
belum kibarkan bendera putih

Sesiapa yang terperosok ke lubang kepiting
karena dipiting angin berputing?

cemas
menggoyang rimbun semak
jejak
bekas yang lekas

peta tak terpakai
balai yang lunglai
puntung-gelas kopi pahit
bekas perdebatan sengit

pantai yang gontai
hanya menyeringai
di ombak mana ia kau buai?
[06.2003]


DERMAGA KATA
dermaga kata serupa gurita
jarinya perahu dari segala penjuru
mengendor menegang dipangku gelombang
melupakan ombak yang membuat pening

di cakrawala, perahu lain memberi isyarat
beri kesempatan tali aku tambat—entah berteriak
atau membuat ayat

mungkin ia hanya belum tahu, di dermaga kata
perahu kecil pernah merapat malu-malu
disentak lampu perahu yang duluan merapat
“kamu perahu baru? maaf, kami kira pembajak.”
[03.2003]

GONDANGDIA, GODA DIA
-Marco Kusumawijaya
aku datang dari sebuah pulau
lama mencari bekas di selembar peta
mencari warung tegalan di depan penginapan

hai Gondangdia, aku di mana saat itu?

Gondangdia mungkin bukan sekadar rangkai,
garis atau kanal kabel tak berujung, atau labirin
berduri segi empat

setiap aku lewat mencarimu, aku menemukan
hujan yang hanya mengaburkan sebuah kejauhan

hai Gondangdia, aku di mana saat itu?
[02.2003]

BUNYI
Ketika sunyi adalah bunyi pertama adalah hanya ketuk
aku pungut cahaya ringkas di atas perutku yang lembut
untuk itu badanku ringkuk.

Ketika sunyi adalah bunyi yang aku terka
di tubir hutan kera ibu terguncang
air mendesak dari tempayan
terguling di lereng bukit menjangan
ketika sunyi adalah bunyi yang aku paksa.

Ketika sunyi adalah mekar kabut sedekah kata
di sebuah ujung yang belum mengenal arah
landai dan tenung tak sampai
samar aku lihat sebilah pedang di tangan ayah
ketika sunyi adalah bunyi terakhir.
[Makassar 2002]


HALUAN KAPAL DI HALAMAN KAPEL
Begitu aku tak sempat melihatmu tumbuh
Dari kecebong lucu menjadi perawan penuh
Sebab girang akan disentak dari geladak
Bila pinggang kapal telah merapat.

Aku ingat engkau tiba-tiba
Bermain air di pinggir Toba
Awan berpencar tembuni
Lamtoro tebar bau yang kau benci
Sejak itu aku paham: kenangan hanya semacam
gatal di kening; berubah kembang atau kumbang
atau kunang-kunang.

Begitu aku tak sempat melihatmu cemburu
Pada pinggang kapal melengok berlabuh
Girang aku sentak naik ke haluan
Tapi habis jadi lauk makan malam.

Di halaman kapel tua buatan Belanda
Di bawah ketiak patung Bunda Maria
Laba-laba jantan desah kenang betina
Mungkin karena lubang bekas peluru di pintu gerbangnya itu.
[maret, 2002]


TASBIH
bagai bubur sia-sia, ia duduk kecapaian di teras
sehabis mencari 3 biji tasbihnya yang tercecer ke mana.
Tasbih tua pemberian seseorang di penjara dulu
digantung di tanduk rusa sebuah ruang tamu
“Mungkin sudah berubah jadi buah kersen,” kata tekukur
yang tergantung di serambi.

Seruput kopi pertama luncuri kerongkongan penuh lubang
Disulut gulungan tembakau hutan, kursi pun digoyang
---ikan berlarian!
Mata nyembul dari balik karang
Ah, angin sore celup jari di air kolam

Dilepasnya gagang cangkir dan seruput kedua
Jumput lima jari di toples cemilan
Bunga mangga merunduk ciumi tiang serambi
Berbisik ada kabar yang buruk sekali
Ah, kemarau akan kacau ladang tembakau

Diliriknya kersen matang sebesar biji tasbih
terukur mengepak gelisah
ada yang menggetarkan sapu lidi di sudut serambi

menunda kesah
menunda mengkal mangga

[oktober 2002]


AWALNYA, DIRIKAN TENDA
MENUNGGU TANDA
-bb
Rerempuan menjepit tangan di ketiak
Sisir jalan yang dulunya setapak
Sesak jejak sesat menetak semak
Di dua detak
dua detik

Ah, lampu menunduk menunggu rayu

Rerempuan maju capai tepi sepi
Memandang ke titik-titik api

Mereka adalah kumbang yang berpisah dari rombongan
Diami lereng mendulang cahaya bulan
Atau keluarga pemburu menancap suluh
Dirikan tenda
Menunggu tanda

Mungkin juga kerlip penghabisan
Sebuah kampung kedap nyaring sebuah ketinggian

Mungkin juga bangsaku
Rerempuan mandul yang diasingkan
Duduk memeluk lutut depan perapian
Dilantar lelaki perayu dari sebuah perahu

Bila malam penuh taji begini
Aku hanya butuh sebuah nganga
Biar maut meronce leluasa

[September 2002]

SUARA ITU DATANG LAGI

suara-suara itu datang lagi
bulat berkilau melayang di wangi udara pagi
mengecup kening kabut yang pergi
terburu-buru
tersipu
lalu pecah tertusuk daun padi.
[2000]


PENGERIK BILIK
Sesosok bayangan meniti pematang bersama gumam
ketika subuh masih segenggam
jubahnya mengurung tumit—aku tahu, ia bukan pendeta
bergeming karena pengikut sedikit

Jubahnya bagai lap mengisap embun segala lembab
nyelinap ke dusun-kampung dan ladang-kebun
nitikkan ludah ke gumbang air persediaan atau kencing
ke batang-batang jagung.

Cerita itu kemudian diremas ke dalam kepompong
Dengan kereta ke kota bersama pedagang, bayam, labu, dan terong
‘Untuk pemuda yang berbaris di jalan’, katanya, dengan subuh
yang merengek di pangkuan

tepat di gerbang kota yang dijaga, kepompong matang
kupu-kupu pun terbang
kepak sayap penuh huruf itu mencari
mula berangkat ladam-ladam

daki malam di dinding bilik dikerik
bagai pembatik, ia menggambar kata dasar
tambah sedikit menjadi jerit:

ah, kantuk meluk sepatu penjaga
ah, bulan bayang tonjol tulang
ah, punakawan tak tandang di mimpi
[1/03]

Lemari Pendingin